Sebuah penelitian di Eropa menemukan bahwa mereka telah menemukan beberapa zat dalam kopi yang dicurigai sebagai penyebab munculnya rasa mulas dan sakit perut.

Kedua ilmuwan, Veronika Somoza, PhD, dari University of Vienna, Austria, dan Thomas Hofman, PhD, dari Technische Universitat Munchen, Jerman, menyatakan bahwa penemuan mereka ini akan membantu banyak orang yang sensitif terhadap kandungan di dalam kopi. Penelitian dilakukan dengan cara mengujikan sel tubuh manusia ke berbagai macam jenis penyajian kopi, seperti kopi reguler, dark-roast, mild, dan decaffein, untuk menemukan zat yang menyebabkan terjadinya iritasi pada lambung.

Melalui penelitian ini untuk pertama kalinya ditemukan bahwa kafein, catechol, dan senyawa kimia yang dinamai N-alkanoly-5-hydroxtryptamides, secara bersama-sama merangsang sekresi asam lambung. Bukan hanya kafein, seperti yang selama ini dipercaya oleh masyarakat sebagai satu-satunya zat yang menyebabkan naiknya asam lambung dalam tubuh.

Secara tidak terduga, mereka juga menemukan salah satu kandungan dalam kopi yang disebut NMP atau N-methylpyridium, mampu menghalangi sel-sel lambung untuk mengeluarkan asam klorida yang dapat menyebabkan iritasi pada lambung.

Karena senyawa kimia tersebut hanya dihasilkan selama proses pemanggangan dan tidak ditemukan dalam biji kopi mentah, para peneliti mengatakan kopi yang dipanggang lebih lama hingga berwarna kehitaman akan mengandung jumlah NMP yang lebih tinggi. Jumlah NMP yang lebih tinggi ini akan menjadikan kopi aman dikonsumsi oleh mereka yang sensitif terhadap keasaman kopi.

Saat ini produsen kopi membuat kopi yang ramah perut dengan cara memproses biji kopi mentah dengan diuapkan atau diberi pelarut, yang bertujuan untuk mengurangi kandungan zat penyebab iritasi pada perut. Sayangnya, proses tersebut malah menyebabkan hilangnya banyak kandungan baik dalam kopi yang bermanfaat bagi kesehatan, seperti mengurangi faktor resiko diabetes dan penyakit jantung.

Hasil penelitian ini telah disampaikan kedua peneliti dalam ajang pertemuan tahunan American Chemical Society, di San Fransisco, Amerika Serikat pada tahun 2010.

Artikel orisinal ditulis oleh Bill Hendrick untuk WebMD.